Minggu, 26 Mei 2013

KONDISI MASYARAKAT INDONESIA MASA KOLONIAL DAN PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA




Bidang Politik
Struktur Birokrasi
Dengan diterapkannya kebijakan politik kolonial Belanda di Indonesia masuk pula pengaruh Belanda dalam bidang struktur birokrasi Indonesia mulai terjadi ketika pemerintahan belanda meneapkan undang-undang dasar baru pada tahun 1848. Pada tahun 1854, pemerintah colonial Belanda di Indonesia mengumumkan penerapan struktur birokrasi baru.
Struktur pamong praja yang dahulu berdasarkan garis keturunan, kini mulai menganut sistem kepegawaian. Berdasarkan Surat Edaran 1867, ditentukan bahwa seorang colonial, memperhatikan penanaman bahan pangan, dan mengawasi pelaksanaan tanam paksa, mengawasi perjanjian dagang dengan bangsa-bangsa eropa dan mengawasi sekolah-sekolah pribumi
Sistem Pemerintahan
Perubahan sistem birokrasi tak pelak turut mengubah sistem pemerintahan colonial diindonesia. Selama pemerintahanya, gubernur jendral Daendels (1808-1811) menjadikan jawa sebagai pusat pemerintahan dan membaginya menjadi kesatuan-kesatuan wilayah yang di sebut prefecture.
Perubahan sistem pemerintahan baru terlaksana setelah indonesia di kuasai kembali oleh belanda. Pemerintahan belanda mengeluarkan undang-undang desentralisasi 1903. Isinya sebagai berikut
1. Pendelegasian kekuasaan pusat ke hindia belanda, dari pemerintahan hindia belanda ke departemen, pejabat local dan dari pejabat belanda ke pejabat pribumi.
2. Menciptakan lembaga otonom yang mengatur urusan sendiri.
3. Pemisahan keuangan pusat dan daerah.
Selain UU Desentralisasi perubahan sistem pemerintahan juga didorong oleh peraturan pembebasan dari perwalian 1922, serta sistem pemerintahan baru. Berdasarkan UU ini, indonesia di bagi menjadi kesatuan-kesatuan daerah yang disebut Gouvernementen dengan gubernur sebagai pemimpinnya. Pembentukan pemerintahan daerah ini di mulai dari jawa barat pada tahun 1926 jawa timur pada tahun 1929, dan jawa tengah pada tahun 1930. Perubahan sistem pemerintahaan ini di lanjutkan dengan penghapusan Dewan Karesidenan pada tahun 1925 dan di bentuk dewan kabutan.
Sistem Hukum
Selain struktur birokrasi dan sistem pemerintahan, sistem hokum Indonesia juga mengalami perubahan. Sistem hukum Indonesia yang sebelumnya berdasarkan hukum adat tradisional berangsur-angsur digantikan oleh sistem hukum barat modern.Peletak sistem awal sistem ini di Indonesia adalah Gubernur Jenderal Daendels, yang telah memperkenalkan sistem pengadilan keliling dan pengadilan pribumi disetiap prefecture yang disebut Landgerecht.

Kebijakan colonial dalam bidang hokum dilanjutkan dengan perndirian mahkamah agung (Hog-Gerechtschof). Mahkamah agung merupakan lembaga peradilan atau yudikatif tertinngi di Indonesia itu, sejak tahun 1848, mahkamah agung mendapat kekuasaan untuk mengawasu seluruh pengadilan di Jawa. Sementara itu sejak, 1854, semua peraturan pemerintah yang berasal dari raja, putra mahkota, dan gubernur jenderal yang dinyatakan sbg undang-undang.
Bidang Ekonomi
Komersialisasi, Moneterisasi, dan Industrialisasi
Kebijakan ekonomi colonial belanda di Indonesia sangat di pengaruhi oleh kondisi perekonomian dalam negeribelanda. Pada saat itu, belanda sedang menghadapi masalah minimnya sumber dana dalam negeri akibat utang perang yang menumpuk. Kebijakan bermotif ekonomi yang pertama kali di terapkan adalah tanam paksa (cultuur stelsel). Dengan tanam paksa,belanda mulai melakukan eksploitasi kekayaan alam Indonesia umtuk menutup utang-utang yang dimilikinya.
Pada tahun 1870, belanda menerapkan kebijakan ekonomi pintu terbuka. Dengan kebijakan ini, dimulailah era komersialisasi, moneterisasi dan industrialisasi di Indonesia. Belanda memberi kesempatan seluas-luasnya kepada perusahaan-perusahaan swasta untuk masuk ke Indonesia, melakukan perdagangan, dan menanamkan modalnya di Indonesia.Politik pintu terbuka didorong dengan dibukanya terusan suez pada tahun 1869. pembukaan terusan ini semakin memudahkan lalu lintas perdagangan internasional.
Kekuatan modal asing yang masuk ke Indonesia, secara tidak langsung telah mendorong proses industrilisasi secara lebih cepat. Muncul perkebunan-perkebunan di banyak daerah yang didukung dana luar negeri. Di antara Negara-negara yang banyak menanamkan modalnya di Indonesia saat itu adalah Belgia, Amerika Serikat, dan swiss (dalam perkebunan karet), Inggris (dalam perkebunan teh), serta Cina dan Jepang (dalam perkebunan tebu).

Perkembangan ekonomi Indonesia pada masa colonial Belanda ini mempengaruhi berbagai segi kehidupan rakyat Indonesia. Kondisi ini, antara lain mempengaruhi sector perdagangan, pertanian,perikanan, industri, infrastruktur, dan taraf hidup rakyat secara umum.
Perkembangan perekonomian yang semakin pesat telah mendorong pemerintah Belanda untuk membangun sarana infrastruktur di Indonesia. Pembangunan jalan, rel kereta api,bendungan system irigasi, serta pusat pembangkit listrik dimaksudkan untuk memperlancar prose industrialisasi yang sedang berjalan. Namun, perkembangan ekonomi selama masa colonial belanda ini tidak membawa pengaruh berarti dalam perbaikan taraf hidup rakyat Indonesia. Berbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah belanda, ternyata tidak ditujukan demi kepentingan rakyat Indonesia. Berbagai kebijakan ekonomi yang diterapakn Belanda hanyalah demi kepentingan dalam negeri Belanda sendiri.
Bidang social
Mobilitas sosial

Dalam struktur masyarakat kolonial, masyarakat indoneia meliputi golongan eropa, asia, dan timur jauh, serta golongan pribumi . .
Golongan eropa yg tinggal di indonesia meliputi,belanda, inggris, amerika, belgia, swiss, dan perancis. golongan eropa memiliki kekuasaan besar dan status sosial mereka lbih tinggi di banding dgn golongan golongan lain yg ada di indonesia.
Golongan asia dan timur jauh yg tinggal di indonesia meliputi, bangsa cina, india, dan arab. sebagian besar adalah pedagang yg menguasai sektor perdagangan eceran, tekstil, dan mesin elektronik. status ekonomi mereka yg tinggi membuat pemerintah belanda memberikan banyak kemudahan dalam sektor perdagangan.
Golongan pribumi ialah penduduk asli indonesia dan golongan mayoritas indonesia. walaupun merupakan golongan mayoritas tapi golongan ini berada pada lapisan terbawah dalam stratifikasi sosial masyarakat kolonial di Indonesia.

Stratifikasi Sosial
Stratifikasi masyarakat indonesia sebelum datangnya belanda terdiri atas golongan bangsawan (kelas atas), golongan birokrat pemerintah(kelas menengah)dan golongan rakyat jelata (kelas bawah). pengelompokan ini di dasarkan pada faktor kekuasaan dan keturunan yg dimiliki golongan bangsawan di indonesia pada saat itu.

Setelah datangnya belanda ke indonesia, srtatifikasi masyarakat indonesia pun mengalami perubahan. bangsa belanda, dgn kekuasaanya mengambil alih kedudukan kaum bangsawan sebagai golongan klas atas dalam struktur masyarakat indonesia sat itu. pada lpisa strata di bawahnya trdapat golongan bangsawan dan birokrat pemerintah yg memiliki privilage atau hak hak istimewa untuk memegang kekuasaan pemeintah. lapisan trakhir dalam stratifikasi sosial ini yaitu kebanyakan yg berkerja sebgai petani kecil, buruh angkut, kuli kontrak, dan pekerjaan pekerjaan kasar lainnya.
Demografis dan Mobilitas Penduduk
Masa kolonial Belanda di Indonesia juga mngekibatkan terjadinya perubahan struktur kependudukan atau demografi penduduk dan mobilitas penduduk. Masuknya pengaruh social dan budaya barat serta kemajuan ekonomi di indonesia telah membentuk pola kependudukan yang mengikuti sistem kependudukan modern.
Berasamaan dengan berlangsungnya perubahan struktur demografis, terjadi mobilitas penduduk dari desa ke kota-kota yang baru berdiri. Sejak awal abad 19 arus urbanisasi ini telah menimbulkan masalah baru. Kota-kota yang baru berdiri di penuhi para pendatang dari desa yang hendak mencari pekerjaan.
Perbedaan tingkat kehidupan desa-kota sangat mencolok, serta semakin berkurangnya tanah pertanian di daerah pedesaan turut menjadi factor pendorong berduyun-duyunnya penduduk desa datang ke kota.
Kedudukan dan Peran Perempuan
Kualitas dan gaya hidup kaum Barat, termasuk kaum perempuannya, yang menjujung tinggi kebebasan terlihat begitu kontras dengan kualitas dan gaya hidup dengan kaum pribumi yang beghitu terikat akan tradisi dan adat. Hal ini menyadarkan kaum terpelajar akan keterbelakangan dan kekolotan masyarakat dan kaum perempuan indonesia
Tokoh perempuan Indonesia yang dinilai sebagai pelopor kesadaran ini adalah R.A Kartini, seorang putri bupati jepara, melalui surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar dan Prof F.K Anton di belanda, Kartini memimpikan sebuah perubahan masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan. Kartini memimpikan sebuah tatanan social yang kaum perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki.

PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA TERHADAP BANGSA BARAT

INDENTIFIKASI HAL – HAL YANG TERKAIT DENGAN BERBAGAI PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA TERHADAP KEKUATAN BANGSA BARAT
No
Nama Perlawanan Rakyat
Terjadi
Faktor Penyebab terjadinya
Tokoh – tokoh
Musuh yang dilawan
Akhir Perlawanan
1
Ternate
1521 – 1575
1.        Portugis berusaha untuk melakukan monopili perdagangan
2.        Portugis ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan
3.        Portugis bertindak sewenang – wenang dan menindas rakyat
4.        Portugis memandang rendah rakyat Ternate
1.    Sultan Tabarji ( Dajalo )
2.    Antonio Galvao
3.    Sultan Hairun
4.    Sultan Baabullah
Bangsa Portugis
Berkat kegigihan Sultan Baabullah pada tanggal 28 Desember 1575 Portugis dihalau keluar dari Maluku
2
Aceh
1513 – 1629
1.        Portugis merupakan saingan Aceh dalam perdagangan di kawasan selat Malaka
2.        Portugis ingin menyebarkan agama katholik yang tidak bias diterima Aceh sebagai kerajaan Islam
1.    Sultan Ali Mughayat Syah
2.    Sultan Alaudin Riayat Syah
3.    Sultan Iskandar Muda
Bangsa Portugis
Pada tahun 1629, Sultan Iskandar Muda melakukan serangan besar – besaran ke Malaka tetapi dapat digagalkan oleh Portugis
3
Demak
1511 – 1527
1.      Kedatangan Portugis ke Malaka mengacam kedudukan Demak sebagai kota pelabuhan
2.      Kedatangan Portugis ke Malaka mengacam kedudukan pedagang – pedagang Islam
1.    Katir dari Jepara
2.    Adipati Unus ( Pati Unus / Pangeran Sabrang Lor )
3.    Fatahillah
Bangsa Portugis
Fatahillah berhasil mengusir Portugis yang ingin bekerjasama dengan Kerajaan Hindu Pajajaran
4
Ternate
1605 – 1680
1.      Perlakuan VOC terhadap rakyat Ternate yang sangat kejam
2.      VOC mempraktekan monopoli dagang dengan system pelayaran Hongi dan ekstirpasi
1.     Kakiali  1635
2.     Telukabesi 1646
3.     Kaicil Saidi 1650 – 1680
4.     Sultan Ternate 1675
VOC
Perlawanan terhenti setelah Kakiali terbunuh VOC
Pada tahun1646 berhasil dipadamkan VOC
Pada tahun 1680 VOC berhasil menumpasnya
5
Tidore
1780
Penolakan Sultan Jamaludin untuk menyerahkan Seram Timur kepada VOC
Sultan Jamaludin
VOC
Pada tahun 1780 Sultan Jamaludin ditangkap dan diasingkan ke Batavia
1805
Pengangkatan sultan baru menimbulkan kemarahan putra sultan Jamaludin yang bernama sultan Nuku
Sultan Nuku
VOC
Pada tahun 1805 Sultan Nuku berhasil mengusir VOC dari Tidore. Kemudian diangkat menjadi sultan Tidore dengan gelar Sultan Syaifuddin
6
Mataram
1613 – 1645
1.     VOC tidak mau mengakui kekuasaan Mataram
2.     VOC merintangi cita – cita Sultan Agung
3.     VOC merintangi perdagangan Mataram dengan Malaka
Sultan Agung
VOC
Karena mengalami dua kali kegagalan, akhirnya Sultan Agung memutuskan untuk mengganti haluan politiknya dengan menjalankan blockade ekonomi terutama perdagangan beras yang menjadi monopoli VOC pada saat itu
1645  - 1667
Pengganti Sultan Agung yaitu Amangkurat I merupakan seorang raja yang lemah dan bertindak kejam, sewenang – wenang terhadap rakyat dan bersahabat dengan VOC
Trunojoyo ( bupati Madura )
Macan Wulung dari Madura Timur
Panembahan Romo dari Giri
Kraeng Galesung dan Monte Marano dari Bugis serta Raden Kajoran dari Bagelen
VOC
Amangkurat I melarikan diri ke Tegalarum dan digantikan Amangkurat II serta berhasil meredam perlawanan Trunojoyo dengan dibunuhnya Trunojoyo oleh Amangkurat II dengan bantuan VOC
1685 – 1706
Kebencian terhadap kesewenang – wenangan prajurit VOC.
Untung Suropati ( Adipati Wiranegara )
Kapten Tack
Herman de Wilde
Amangkurat III
VOC
Pada tahun 1706 Untung Suropat terbunuh pasukan VOC yang dipimpin Herman de Wilde
Amangkurat III melanjutkan perlawanan terhadap VOC, tetapi karena prajuritnya kalah kuat maka pada tahun 1707 ia ditangkap dan diasingkan ke Sri Langka
7
Kerajaan Banten
1651
VOC merebut Jayakarta pada tahun 1619
Sultan Ageng Tirtayasa
VOC
Sultan Ageng Tirtayasa dapat ditawan VOC
1750
Mengusir VOC dari Banten
Kiai Tapa
VOC
Dapat dipatahkan VOC 1752


Syech Yusuf
VOC
Perlawanan berakhir setelah pusat pertahanan syech Yusuf di Tongilis dapat direbut VOC
8
Kerajaan Makasar

VOC menuntut monopoli perdagangan di Makasar, tetapi ditolak akibatnya muncul beberapa kali ketegangan antara kedua belah pihak
Sultan Hasanuddin Karaeng Tallo Karaeng Popo Karaeng Karunrung
Cornelis Speelman  Kapitan Yonker
VOC
Pada tahun 1667 VOC dibawah pimpinan Kapitan Yonker berhasil mengalahkan Makasar.
Pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin dipaksa mendatangani Perjanjian Bongaya
9
Perang Aceh
1873 – 1904
1.       Belanda ingin menguasi Acah
2.       Letak Aceh sangat strategis
3.       Pelayaran Belanda di Selat Malaka sering diganggu oleh pelaut Acah
4.       Traklat Sumatera 1871 memberi peluang Belanda untuk menyerang Aceh
5.       Pada 22 Maret 1873, Komisasris Belanda, FN. Nieuwen Huysen menuntut agar Aceh mengakui kedaulatan pemerintah Kolonial Belanda namun ditolak oleh Sultan Mahmud Syah.
F.N. Nieuwen Huysen
Sultan Mahmud Syah
Panglima Polim
Teuku Cik Di Tiro
Cut Nyak Dien
Teuku Ibrahim
Teuku Leueng Bata
Teuku Tapa
Muhammad Dawud
Teuku Mad Amin
Cut Meutia
Cut Banta
Colonial Belanda
Pada tahun 1900 laskar Aceh mendapat tekananan dari Belanda melalui penyerangan dan kekejaman di luar batas kemanusiaan.
Pada 1899 Teuku Umar gugur dalam pertempuran sengit di Meulaboh
Pada 1903 Sultan Muhammad Dawud Syah dan Panglima Polim menyerah kepada Belanda.
9
Perang Banjar
1859 – 1863
1.       Belanda ingin menguasai daerah banjar yang banyak menghasilkan intan, emas, lada dan batubara.
2.       Belanda berusaha memaksakan monopoli perdagangan di Banjar
3.       Belanda ikut campur tangan dalam urusan intern Kerajaan Banjar
4.       Belanda mengumumkan penghapusan Kerajaan Banjar
Prabu Anom
Pangeran Hikayat
Pangeran Antasari
Kolonial Belanda
Kekuatan rakyat Banjar semakin melemah sejak wafatnya Pangeran Antasari ( 1862 ) serta tertangkapnya beberapa tokoh pimpinan.
10
Perang Jagaraga
1846 – 1906
1.       Berlakunya Hak Tawan Karang bagi raja – raja Bali
2.       Belanda menuntut supaya hak Tawan Karang dihapus, dan raja – raja di Bali mau mengakui kekuasaan Belanda di Bali serta mau melindungi perdagangan di Bali
Raja Buleleng
Jenderal Michiels
Kolonial Belanda
Pada 1849 Belanda kembali menyerang Benteng Jagaraga setelah mendapat bantuan pasukan dari Batavia. Serangan tersebut dibalas oleh rakyat Bali dengan ‘ Perang Puputan ‘
Setelah benteng Jagaraga jatuh, serangan diarahkan ke Klungkung, Karangasem dan Gianyar. Baru pada 1906 Belanda dapat menegakkan kekuasaannya di Bali.
11
Perang Padri
1821 – 1837
1.       Adanya pertentangan antara kaun Adat dengan kaum Padri
2.       Adanya Campur tangan Belanda untuk membantu kaum Padri
Haji Miskin
Haji Sumantik
Haji Piabang
Tuanku Imam Bonjol
Datuk Bandaro
Kolonial Belanda
Pada 25 Oktober 1833 Belanda mengajak Kaum Padri untuk berdamai dengan dikeluarkannya Plakat Panjang
Pada bulan Juni 1834 Belanda menyerang kaum Padri lagi.
Pada 21 September 1837 Benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda
Pada 28 Oktober 1837 Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke Cianjur kemudian dipindahkan ke Minahasa.
12
Perang Diponegoro
1825 - 1830
1.       Sebab umum :
a)       Adanya kekecewaan dan kebencian kerabat istana terhadap tindakan Belanda yang makin intensif mencampuri urusan keratin
b)       Adanya kebencian rakyat pada umumnya dan para petani khususnya akibat tekanan pajak yang sangat memberatkan
c)       Adanya kekecewaan dari P. Diponegoro karena tidak diangkat menjadi pengganti raja melainkan hanya sebagai wali raja
2.       Rencana pembuatan jalan melalui makam leluhur P. Diponegoro yang terletak di Tegalrejo. Tanpa meminta ijin kepada P. Diponegoro, Belanda memasang patok – patok sebagai tanda akan dibangunnya jalan tersebut.
Pangeran Diponegoro
Kyai Mojo
Sentot Ali Basah Prawirodiorjo
Pangeran Mangkubumi
Surya Alam
Jenderal De Kock
Kolonial Belanda
Pada 1828 Kyai Mojo menyerah himgga pasukan P. Diponegoro melemah,
Disusul kemudian oleh Sentot Ali Basah, P. Mangkubumi dan putranya P. Dipokusumo juga menyerah.
Pada 28 aret 1830 diadakan perundingan di Magelang sebagai siasat belanda untuk menangkap P. Diponegoro.
13
Perang Tapanuli
1878 – 1907
1.       Belanda  menduduki wilayah Tapanuli dengan disertai penyebaran agama Nasrani secara paksa
2.       Belanda ingin mewujudkan “ Pax Neerlandica “, yaitu upaya mencapai perdamaian untuk melindungi kepentingan modal Belanda.
Hans Christoffel
Sisingamangaraja XII
Kolonial Belanda
Pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII tertembak dan gugur
Perlawanan bangsa Indonesia menentang dominasi asing
A. Perlawanan sebelum tahun 1800
Ditandai dengan perang/perlawanan langsung terhadap kekuasaan bangsa barat, dan juga ditandai dengan persaingan antara kerajaan – kerajaan Nusantara dalam memperebutkan hegemoni di kawasan tersebut.
Dalam persaingan tersebut kerajaan – kerajaan di Nusantara sering melibatkan bangsa barat untuk membantu mengalahkan pesaingnya. Kondisi inilah yang menyebabkan kegagalan dalam mengusir bangsa – bangsa barat dari nusantara.

Bentuk – bentuk perlawanan rakyat Indonesia :
1. Perlawanan Rakyat Maluku
Upaya rakyat Ternate yang dipimpin Sultan Hairun maupun Sultan Baabulah(1575), sejak kedatangan bangsa Portugis pada 1512 tidak berhasil, penyebabnya adalah tidak ada kerja sama antara kerajaan Ternate, Tidore, dan Nuku. Kekuatan Portugis hanya dapat diusir oleh kekuatan bangsa Belanda yang lebih kuat.
2. Perlawanan Rakyat Demak
Perlawanan ini dipimpin oleh Adipati Unus terhadap Portugis di Malaka. Serangan pasukan Adipati Unus dilakukan dua kali (1512 & 1513) mengalami kegagalan. Pada saat yang sama, penguasa kerajaan Pajajaran melakukan kerja sama dengan Portugis, setelah mendapat ancaman dari kekuatan Islam di pesisir utara pulau Jawa, yaitu Cirebon dan Banten.
3. Pelawanan Rakyat Mataram
Sultan Agung yang memiliki cita – cita mempersatukan pulau Jawa, berusaha mengalahkan VOC di Batavia. Penyerangan yang dilakukan pada 1628 & 1629 mengalami kegagalan, karena selain persiapan pasukannya yang belum matang, juga tidak mampu membuat blok perlawanan bersama kerajaan lainnya.
4. Perlawanan Rakyat Banten
Setelah Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putranya yang bergelar Sultan Haji sebagai Sultan Banten, Belanda ikut campur dalam urusan Banten dengan mendekati Sultan Haji. Sultan Agung yang sangat anti VOC, segera menarik kembali tahta putranya. Putranya yang tidak terima, segera meminta bantuan VOC di Batavia untuk membantu mengembalikan tahtanya, akhirnya dengan bantuan VOC, dia memperoleh tahtanya kembali dengan imbalan menyerahkan sebagian wilayah Banten kepada VOC.
5. Perlawanan Rakyat Makasar
Konflik antara Sultan Hasanuddin dari Makasar dan Arupalaka dari Bone, memberi jalan bagi Belanda untuk menguasai kerajaan – kerajaan Sulawesi tersebut. Untuk memperkuat kedudukannya di Sulawesi, Sultan Hasanuddin menduduki Sumbawa, sehingga jalur perdagangan Nusantara bagian timur dapat dikuasai. Hal ini dianggap oleh Belanda sebagai penghalang dalam perdagangan. Pertempuran antara Sultan Hasnuddin dengan Belanda yang dipimpin Cornelis Speelman selalu dapat dihalau pasukan Sultan Hasanuddin. Lalu Belanda meminta bantuan Arupalaka yang menyebabkan Makasar jatuh ke tangan Belanda, dan Sultan Hasanuddin harus menandatangani perjanjian Bongaya pada 1667, yang berisi :
a. Sultan Hasanuddin harus memberikan kebebasan kepada VOC berdagang di Makasar dan Maluku.
b. VOC memegang monopoli perdagangan di Indonesia bagian timur, dengan pusat Makasar.
c. Wilayah kerajaan Bone yang diserang dan diduduki Sultan Hasanuddin dikembalikan kepada Arupalaka, dan dia diangkat menjadi Raja Bone.
6. Pemberontakan Untung Surapati (1686 – 1706)
Untung Surapati bersekutu dengan Sunan Amangkurat II untuk melawan VOC. Untuk meredam pemberontakan Untung Surapati, VOC mengutus Kapten Tack ke Mataram, namun gagal. Sunan Amangkurat II berterima kasih kepada Untung Surapati dengan memberikan daerah Pasuruan dan menetapkannya menjadi Bupati di sana dengan gelar Adipati Wiranegara. Pada 1803 Sunan Amangkurat II meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat III, pamannya yang bernama Pangeran Puger menginginkan tahta raja di Mataram. Dia kemudian bersekutu dengan VOC, dan kemudian membuat perjanjian dengan VOC, dengan menyerahkan sebagian wilayah kekuasaan Mataram. Pada 1705 Pangeran Puger dinobatkan menjadi Sunan Mataram dengan gelar Sunan Pakubuwana I, setelah itu dimulailah peperangan antara Sunan Pakubuwana I dengan Untung Surapati yang dibantu Sunan Amangkurat III. Pada 1706, VOC berhasil melumpuhkan Untung Surapati di Kartasura.
B. Perlawanan sesudah tahun 1800
† Tidak banyak perbedaan dengan perlawanan sebelum tahun 1800, yang hanya dilakukan secara kedaerahan dan sedikit ditandai dengan persaingan memperebutkan hegemoni antara kerajaan – kerajaan tersebut.
Bentuk – bentuk perlawanan rakyat Indonesia :
1. Perlawanan sultan Nuku (Tidore)
Sultan Nuku adalah raja dari Kesultanan Tidore yang berhasil meningkatkan kekuatan perangnya hingga 200 kapal perang dan 6000 pasukan untuk menghadapi Belanda. Selain itu dia juga menjalankan perjuangan melalui diplomasi. Untuk menghadapi Belanda , dia mengadakan hubungan dengan Inggris untuk meminta bantuan dan dukungan. Dia mengadu domba antara Inggris – Belanda. Pada 20 Juni 1801 dia berhasil membebaskan kota Soa – Siu dari Belanda, akhirnya Maluku Utara dapat dipersatukan di bawah kekuasaan Sultan Nuku.
2. Pelawanan Pattimura (1817)
Dimulai dengan penyerangan terhadap benteng Duurstede di Saparua, dan berhasil merebut benteng tersebut dari tangan Belanda. Perlawanan ini meluas ke Ambon, Seram, dan tempat – tempat lainnya. Untuk menghadapi serangan tersebut, Belanda harus mengerahkan seluruh kekuatannya yang berada di Maluku.
Akhirnya Pattimura berhasil ditangkap dalam suatu pertempuran dan pada 16 Desember 1817, dia dan kawan – kawannya dihukum mati di tiang gantungan. Perlawanan lainnya dilakukan oleh pahlawan wanita, Martha Christina Tiahahu.
3. Perang Paderi (1821 – 1837)
Dilatar belakangi konflik antara kaum agama dan tokoh – tokoh adat Sumatera Barat. Kaum agama (Pembaru/Paderi) berusaha untuk mengajarkan Islam kepada warga sambil menghapus adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, yang bertujuan untuk memurnikan Islam di wilayah Sumatra Barat serta menentang aspek – aspek budaya yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Tujuan ini tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena kaum adat yang tidak ingin kehilangan kedudukannya, serta adat istiadatnya menentang ajaran kaum Paderi, perbedaan pandangan ini menyebabkan perang saudara serta mengundang kekuatan Inggris dan Belanda.
Kaum adat yang terdesak saat perang kemudian meminta bantuan kepada Inggris yang sejak 1795 telah menguasai Padang, dan beberapa daerah di pesisir barat setelah direbut dari Belanda. Golongan agama pada saat itu telah menguasai daerah pedalaman Sumatra Barat dan menjalankan pemerintahan berdasarkan agama.
Pada tahun 1819, Belanda menerima Padang dan daerah sekitarnya dari Inggris. Golongan adat meminta bantuan kepada Belanda dalam menghadapi golongan Paderi. Pada Februari 1821, kedua belah pihak menandatangani perjanjian. Sesuai perjanjian tersebut Belanda mulai mengerahkan pasukannya untuk menyerang kaum Paderi.
Pertempuran pertama terjadi pada April 1821 di daerah Sulit air, dekat danau Singkarak, Solok. Belanda berhasil menguasai Pagarruyung, bekas kedudukan kerajaan Minangkabau, namun gagal merebut pertahanan Paderi di Lintau, Sawah Lunto dan Kapau, Bukittinggi. Untuk mensiasati hal ini, belanda mengajak berunding Tuanku Imam Bonjol (pemimpin Paderi) pada 1824, namun perjanjian dilanggar oleh Belanda.
Saat pertempuran Diponegoro, Belanda menarik pasukannya di Sumatra Barat untuk menunda penyerangan pada kaum Paderi, dan memusatkan perhatian di Sumatra Barat untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol.
Dengan serangan yang gencar, kota Bonjol jatuh ke tangan Belanda pada September 1832, dan pada 11 Januari 1833, dapat direbut kembali oleh kaum Paderi. Pertempuran berkobar di mana – mana, dan golongan adat berbalik melawan. Sehingga Belanda memerintahkan Sentot Alibasha Prawirodirjo (bekas panglima perang diponegoro) untuk memerangi Paderi, tetapi tidak mau dan bekerja sama dengan kaum Paderi.
Pada 25 Oktober 1833, Belanda melakukan Maklumat Plakat Panjang, yang berisi ajakan kepada penduduk Sumatra Barat untuk berdamai dan menghentikan perang. Namun pada Juni 1834, Belanda kembali menyerang kaum Paderi. Pada 16 Agustus 1837, Tuanku Imam Bonjol jatuh ke tangan Belanda, dan berhasil meloloskan diri.
Pada 25 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol berunding di Palupuh. Namun Belanda berhianat dengan menangkap dan membuangnya ke Cianjur, Ambon, dan terakhir kota dekat Manado. Dia wafat pada usia 92 tahun dan dimakamkan di Tomohon, Sulawesi Utara.
4. Perang Diponegoro (1825 – 1830)
Penyebab perang ini adalah rasa tidak puas masyarakat terhadap kebijakan – kebijakan yang dijalankan pemerintah Belanda di kesultanan Yogyakarta. Belanda seenaknya mencampuri urusan intern kesultanan. Akibatnya, di Keraton Mataram terbentuk 2 kelompok, pro dan anti Belanda.
Pada pemerintahan Sultan HB V, Pangeran Diponegoro diangkat menjadi anggota Dewan Perwalian. Namun dia jarang diajak bicara karena sikapnya yang kritis terhadap kehidupan keraton yang dianggapnya terpengaruh budaya barat dan intervensi Belanda. Oleh karena itu, dia pergi dari keraton dan menetap di Tegalrejo.
Di mata Belanda, Diponegoro adalah orang yang berbahaya. Suatu ketika, Belanda akan membuat jalan Yogyakarta – Magelang. Jalan tersebut menembus makam leluhur Diponegoro di Tegalrejo. Dia marah dan mengganti patok penanda jalan dengan tombak. Belanda menjawab dengan mengirim pasukan ke Tegalrejo pada 25 Juni 1825.
Diponegoro dan pasukannya membangun pertahanan di Selarong. Dia mendapat berbagai dukungan dari daerah – daerah. Tokoh – tokoh yang bergabung antara lain : Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasha Prawirodirjo, dan Kyai Maja. Oleh karena itu Belanda mendatangkan pasukan dari Sumatra Barat dan Sulawesi Utara yang dipimpin Jendral Marcus de Kock.
Sampai 1826, Diponegoro memperoleh kemenangan. Untuk melawannya, Belanda melakukan taktik benteng Stelsel. Sejak 1826, kekuatannya berkurang karena banyak pengikutnya yang ditangkap dan gugur dalam pertempuran. Pada November 1828, Kyai Maja ditangkap Belanda. Sementara Sentot Alibasha menyerah pada Oktober 1829.
Jendral De Kock memerintahkan Kolonel Cleerens untuk mencari kontak dengan Diponegoro. Pada 28 Maret 1830, dilangsungkan perundingan antara Jendral De Kock dengan Diponegoro di kantor karesidenan Kedu, Magelang. Namun Belanda berhianat, Diponegoro dan pengikutnya ditangkap, dia dibuang ke Manado dan Makasar. Dengan demikian, berakhirlah perang Diponegoro.
5. Perang Aceh
Aceh dihormati oleh Inggris dan Belanda melalui Traktat London pada 1824, karena Terusan Suez diuka, yang menyebabkan kedudukan Aceh menjadi Strategis di Selat Malaka dan menjadi incaran bangsa barat. Untuk mengantisipasi hal itu, Belanda dan Inggris menandatangani Traktat Sumatra pada 1871.
Melihat gelagat ini, Aceh mencari bantuan ke luar negeri. Belanda yang merasa takut disaingi menuntut Aceh untuk mengakui kedaulatannya di Nusantara. Namun Aceh menolaknya, sehingga Belanda mengirim pasukannya ke Kutaraja yang dipimpin oleh Mayor Jendral J.H.R Kohler. Penyerangan tersebut gagal dan Jendral J.H.R Kohler tewas di depan Masjid Raya Aceh.
Serangan ke – 2 dilakukan pada Desember 1873 dan berhasil merebut Istana kerajaan Aceh di bawah pimpinan Letnan Jendral Van Swieten. Walaupun telah dikuasai secara militer, Aceh secara keseluruhan belum dapat ditaklukkan. Oleh karena itu, Belanda mengirim Snouck Hurgronye untuk menyelidiki masyarakat Aceh.
Pada 1891, Aceh kehilangan Teuku Cik Ditiro, lalu pada 1893, Teuku Umar menyerah kepada Belanda, namun pada Maret 1896, ia kabur dan bergabung dengan para pejuang dengan membawa sejumlah uang dan senjata. Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar tewas di Meulaboh. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh istrinya, Cut Nyak Dhien.
Pada November 1902, Belanda menangkap 2 isteri Sultan Daudsyah dan anak – anaknya. Belanda memberi 2 pilihan, menyerah atau keluarganya dibuang. Lalu pada 1 Januari 1903, Sultan Daudsyah menyerah. Demikian pula Panglima Polim pada September 1903.
Pada 1905, Cut Nyak Dhien tertangkap di hutan, Cut Nyak Meutia gugur pada 1910. Baru pada 1912, perang Aceh benar – benar berakhir.
6. Perang Bali
Pulau Bali dikuasai oleh kerajaan Klungkung yang mengadakan perjanjian dengan Belanda pada 1841 yang menyatakan bahwa kerajaan Klungkung di bawah pemerintahan Raja Dewa Agung Putera adalah suatu negara yang bebas dari kekuasaan Belanda.
Pada 1844, perhu dagang Belanda terdampar di Prancak, wilayah kerajaan Buleleng dan terkena hukum Tawan Karang yang memihak penguasa kerajaan untuk menguasai kapal dan isinya. Pada 1848, Belanda menyerang kerajaan Buleleng, namun gagal.
Serangan ke – 2 pada 1849, di bawah pimpinan Jendral Mayor A.V Michies dan Van Swieeten berhasil merbut benteng kerajaan Buleleng di Jagaraga. Pertempuran ini diberi nama Puputan Jagaraga.
Setelah Buleleng ditaklukkan, banyak terjadi perang puputan antara kerajaan – kerajaan Bali dengan Belanda untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan. Diantaranya Puputan Badung (1906), Puputan Kusamba (1908), dan Puputan Klungkung (1908).
7. Perang Banjarmasin
Sultan Adam menyatakan secara resmi hubungan kerajaan Banjarmasin – Belanda pada 1826 sampai beliau meninggal pada tahun 1857. sepeninggal Sultan Adam, terjadi perebutan kekuasaan oleh 3 kelompok :
Kelompok Pangeran Tamjid Illah, cucu Sultan Adam.
Kelompok Pangeran Anom, Putra Sultan Adam.
Kelompok Pangeran Hidayatullah, cucu Sultan Adam.
Di tengah kekacauan tersebut, terjadi perang Banjarmasin pada 1859 yang dipimpin Pangeran Antasari, seorang putra Sultan Muhammad yang anti Belanda. Dalam melawan Belanda, Pangeran Antasari dibantu oleh Pangeran Hidayatullah.
Pada 1862, Pangeran Hidayatullah ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Dalam pertempuran dengan Belanda pada tahun tersebut, Pangeran Antasari tewas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar